Komunikasi Politik
KOMUNIKASI
POLITIK
Komunikasi Politik
menurut Cangara adalah suatu bidang atau disiplin yang menelaah perilaku dan
kegiatan komunikasi yang bersifat politik, mempunyai akibat politik, atau
berpengaruh terhadap perilaku politik. Sedangkan menurut Roelofs komunikasi
politik sebagai komunikasi yang materi pesan-pesan berisi politik yang mencakup
masalah kekuasaan dan penempatan pada lembaga-lembaga kekuasaan (lembaga
otoriatif)
TEORI
KOMUNIKASI POLITIK
1.
Teori Jarum Hipodermik
Disebut
jarum suntik karena dalam model ini dikesankan seakan-akan komunikasi disuntik
langsung ke dalam tubuh si komunikan
2.
Teori Khalayak Kepala Batu
Gugurnya
asumsi bahwa khalayak tidak berdaya dan media berkuasa, maka muncul asumsi baru
bahwa khalayak sangat berdaya dan tidak pasif dalam proses komunikasi,.
3.
Teori Empati dan Hemafili
Empati
merupakan kemampuan menempatkan diri pada situasi dan kondisi orang lain.
Heterophily
adalah cermin kebalikan daripada homophily.
Konsep
itu di definisikan ketika pasangan individu yang berkomunikasi berbeda pada
atribut tertentu.
4.
Teori Informasi dan Nonverbal
Lawrencen
and Scramm (1977) merumuskan, informasi adalah setiap hal yang membantu kita
menyusun atau menukar pandangan tentang kehidupan. Dengan singkat, informasi
adalah hal yang dapat dipakai dalam bertukar pengalaman.
Infromasi
dalam komunikasi politik dapat berarti : sikap politik, pendapat politik,
kostum partai politik, dan tamu kader parati politik.
Menurut
teori informasi, komunikasi politik adalah semua hal harus dianalisa sebagia
tindakan politik, (bukan pesan) yang mengandung tindakan kemungkinan
alternatif. Jadi, bertindak (melakukan tindakan politik) sama dengan
berkomunikasi (melakukan komunikasi politik). Dengan demikian, dapat disebut
bahwa informasi politik dalam teori informasi pada hakekatnya adalah komunikasi
politik yang bersifat nonverbal (tidak terucapkan)
5.
Teori Media Kritis
Menurut
Hollander adalah teori media yang menempatkan konteks kemasyarakatan sebagai
titik tolak dalam mempelajari fungsi media massa. Dalam hal ini diketahui
fungsi media massa di pengaruhi oleh Politik, Ekonomi, Kebudayaan dan Sejarah.
Alasan penulis memilih teori "Khalayak Kepala Batu" masyarakat atau khalayak memiliki hak untuk memilah informasi yang mereka perlukan dan informasi dan menyeleksi berdasarkan presepsi individu.
Pemilihan umum Gubernur DKI Jakarta 2017 dilaksanakan pada 16 Februari 2017 dan 19 April 2017, untuk menentukan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022. Ini merupakan pemilihan kepala daerah ketiga bagi Jakarta yang dilakukan secara langsung menggunakan sistem pencoblosan. Jadwal pemiliha periode ini dimajukan dari jadwal pemilihan periode sebelumnya, yaitu 11 Juli karena mengikuti jadwal Pilkada Serentak gelombang kedua pada 2017. Berdasarkan peraturan, hanya partai politik yang memiliki 22 kursi atau lebih di DPRD Jakarta yang dapat mengajukan kandidat. Partai politik yang memiliki kursi kurang dapat mengajukan calon hanya jika mereka telah memperoleh dukungan dari partai politik lainnya.
Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mencalonkan diri sebagai petahana bersama dengan Djarot Syaiful Hidayat. Selain itu, mantan perwira TNI Agus Harimurti Yudhoyono bersama dengan Sylviana Murni, serta akademisi dan mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia Anies Baswedan juga mencalonkan diri bersama dengan Sandiaga Uno.
Pada pilkada pertama, yang di selenggarakan pada 15 Februari 2017 memiliki hasil quick account secara sah dengan hasil sebagai berikut :
1. Agus Yudhoyono dan Sylviana Murni meraih votting sebanyak 16,9%
2. Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Syaiful Hidayat meraih votting sebanyak 43,2%
3. Anies Baswedan dan Sandiaga Uno meraih votting sebanyak 39,9%, dengan data masuk 100%
Sumber Berita :
Lalu, adanya pengambilan votting suara pemilihan kedua, yang diselenggarakan pada 19 April 2017 sebagai penentuan pilihan terakhir Calon dan Wakil Calon Gubernur DKI Jakarta terpilih terdapat hasil quick account secara sah sebagai berikut :
1. Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Syaiful Hidayat meraih 42,1%
2. Anies Baswedan dan Sandiaga Uno meraih votting terbanyak 57,9% dengan data masuk 100%
Sumber Berita :
Dapat dilihat bahwa,
teori "Khalayak Kepala Batu" yang dapat disimpulkan sebagai asumsi
pilihan masing-masing khalayak tidak dapat terganggu oleh asumsi lain. Seperti
halnya, tidak ada perbedaan signifikansi antara hasil quick account Pilkada
puataran pertama dan kedua pada hasil votting calon pasangan nomer urut 2,
Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat tetap di angka sekitar 40%.
Walaupun pada Pilkada putaran kedua, sebagian besar masyarakat berpindah alih
pendukung pasangan calon nomer 1 (gugur) menjadi pilihan pasangan calon nomer
3, yang disebabkan dengan mayoritas agama Islam, cicilan rumah DP 0%, yang
sangat menarik perhatian masyarakat. (menyangkut ke contoh Teori Hipodermik).
Komentar
Posting Komentar